Friday, 30 December 2016

I WISH ONE DAY WITHOUT...

i wish one day without thinking of you,
i wish one day without envisage staring your eyes,
i wish one day without remembering the way you look at me,
i wish one day without feeling you embrace me,
i wish one day without remembering the way you hold my hand,
i wish one day without memorizing what i've done to you,
i wish one day without streaming down my tears,
i wish one day without memorizing details of your face,
i wish one day without missing you,
i wish one day without expecting you would back,
i wish one day without feeling solace when you approached me,
i wish one day without knowing now you already give up on me,
i wish one day without knowing you are faster to forget than me,
i wish one day without any thought to retain these feelings,
i wish one day without listening my heart which is still loving you,
i wish one day without glance of my memories that you ever hurt me,
i wish one day without any regrets,
i wish one day without blaming myself for what happened,




i wish one day without knowing all of our stories is over. 

Wednesday, 21 December 2016

Semesta dan Tuhan

Kupikir, aku baik-baik saja. Dengan tidak menggubris kata seseorang bahwa aku terlalu sering sendirian. Jujur saja, ternyata aku tidak baik-baik saja. kutampakkan senyumku melukis di wajahku, di depan mereka yang hanya mengenalku sebatas sejengkal saja, tapi aku tahu, Tuhanku lebih mengetahui apa yang tidak mereka ketahui atau mungkin bahkan yang aku sendiri tak ketahui. 

Ternyata hal yang kuanggap sepele itu kini mulai menjadi kanker hati yang terus-terusan aku campakkan. Lucu sekali ketika kenyataannya diriku yang dianggap periang ternyata kerap menangis di belakang. Kau boleh menuduhku makhluk cengeng, tapi itu mengartikan bahwa kau tak lebih tahu diriku daripada semesta. 

Jujur saja, aku belum bisa mendefinisikan hal ini dalam bentuk yang absolut. Terkadang aku masih menyalahkan diriku sendiri tanpa tahu itukah hal yang benar untuk kulakukan.

Aku bukanlah mereka yang memiliki segerombol kawan yang selalu dibawanya kemana-mana bagaikan engsel yang akan selalu melekat di tubuh sebuah pintu. Mayoritas, yang kuanggap sahabat telah dimiliki oleh "gerombolan" yg kusebut tadi.

Dan aku pun mulai termenung dan berusaha mencari celah yang harus kutambal. Ada banyak kemungkinan. Banyak sekali. Namun, kutemukan salah satu jalan dari banyaknya jalan menuju Roma, aku menulis untuk semesta, biarkan ia yang melahap habis-habis. Mungkin itu hanya utopisku saja, tapi kuyakini hal itu bagaikan seorang yang idealis. Dan aku mulai lebih kerap berbicara pada Tuhanku dan kuhabiskan waktuku menikmati hujan di mataku.

Oleh karena itu, untuk kalian, kawan-kawanku tercinta, yang sedang dilanda badai sepertiku, menulislah pada semesta dan bicaralah pada Tuhanmu.


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Dengan penuh kasih,


kawanmu yang telah lama menantikan pelangi datang menghampiri di kala badai petir yang selalu menghujam.