Malam itu, ia tersadar. Akan ketertinggalan
yang amat parah yang selama ini ia jalani. Ia tersadar bahwa kawan-kawannya
telah beranjak mendaki tangga, sedangkan ia masih terduduk di kursi yang sama. Ia sadar bahwa pendiriannya membawa keburukan yang berdampak baginya. Ia terlalu mudah
lari dari masalah. Ia terlalu mudah memberi kesimpulan negatif terhadap
observasinya. Yang mana. Tentu saja. Itu adalah observasi subjektifnya. Yang membawanya
ke jurang keterpurukannya sendiri. Yang mengantarkannya ke gerbang penyesalan
pada akhirnya. Yang menuntunnya untuk berpikir bahwa hidup yang ia miliki ialah
yang paling kacau dari yang terkacau. Yang membuatnya merasa tersudut di suatu
ruangan beranggapan sedang sendirian di dunia yang hitam kelam. Air matanya
jatuh dari pelupuk matanya menyentuh kulit pipinya. Terasa panas. Terasa pedih.
Terasa dosa yang ia tanggung. Badannya meriang serasa raganya ingin melayang.
Malam itu, ia tersadar. Bahwa hanya
satu yang mampu menolongnya. Di saat ia berpikir tak ada lagi manusia di galaksi ini yang mampu meraih tangannya. Ia hanya perlu mendongak ke atas. Mengatungkan
tangannya. Memohon pertolongan pada Sang Penguasa langit dan bumi. Sang Pemilik
hidup dan matinya. Mengharapkan petunjuk-Nya. Mengharapkan Dia akan menemaninya
menghadapi masalah yang terimplan pada jiwanya. Memohon dengan sangat agar Dia
tidak meninggalkannya. Karena hanya Dia-lah yang ia harapkan. Hanya Dia-lah
yang mampu mengangkat bebannya. Hanya Dia-lah yang mengetahui apa yang tak ia
ketahui. Yang Maha Pembuka Rahmat, Yang Maha Melapangkan, Yang
Maha Lembut, Yang Maha Dibutuhkan, Yang Maha Menerangi dan Yang Maha Pemberi
Petunjuk. Dia-lah Allah SWT.
Malam itu, ia tersadar. Bahwa ia
telah terlalu jauh melupakan-Nya. Ia lupa karena kenikmatan duniawi sesaat dan mengatasnamakan
kesibukan aktivitasnya kini. Sekarang baru ia rasakan akibatnya. Ia merindukan-Nya.
Ia merindukan sujud dalam kedamaian dan tangisan hati yang tulus di lantai suci rumah-Nya. Ia merindukan sensasi kehadiran-Nya dalam segala aspek aktivitasnya. Ia
merindukan tangisan malam kala salat lail karena ia merasa bahwa ia sungguh mencintai-Nya. Ia merindukan rasa syukur yang selalu hatinya
ucapkan. Ia merindukan dirinya yang
selalu haus akan doa yang terus-terusan ia panjatkan.
Malam itu, ia tersadar. Tuhannya mencintainya.
Tuhannya menepuk bahunya. Tuhannya berusaha mengembalikannya. Tuhannya memedulikannya.
Tuhannya menyanyanginya. Tuhannya memberinya petunjuk. Tuhannya juga
merindukannya.
p.s. : Dari seorang gadis remaja yang mabuk
asmara. Asmara kepada Allah SWT.