Tuesday, 18 October 2016

Malam Itu

Malam itu, ia tersadar. Akan ketertinggalan yang amat parah yang selama ini ia jalani. Ia tersadar bahwa kawan-kawannya telah beranjak mendaki tangga, sedangkan ia masih terduduk di kursi yang sama. Ia sadar bahwa pendiriannya membawa keburukan yang berdampak baginya. Ia terlalu mudah lari dari masalah. Ia terlalu mudah memberi kesimpulan negatif terhadap observasinya. Yang mana. Tentu saja. Itu adalah observasi subjektifnya. Yang membawanya ke jurang keterpurukannya sendiri. Yang mengantarkannya ke gerbang penyesalan pada akhirnya. Yang menuntunnya untuk berpikir bahwa hidup yang ia miliki ialah yang paling kacau dari yang terkacau. Yang membuatnya merasa tersudut di suatu ruangan beranggapan sedang sendirian di dunia yang hitam kelam. Air matanya jatuh dari pelupuk matanya menyentuh kulit pipinya. Terasa panas. Terasa pedih. Terasa dosa yang ia tanggung. Badannya meriang serasa raganya ingin melayang.

Malam itu, ia tersadar. Bahwa hanya satu yang mampu menolongnya. Di saat ia berpikir tak ada lagi manusia di galaksi ini yang mampu meraih tangannya. Ia hanya perlu mendongak ke atas. Mengatungkan tangannya. Memohon pertolongan pada Sang Penguasa langit dan bumi. Sang Pemilik hidup dan matinya. Mengharapkan petunjuk-Nya. Mengharapkan Dia akan menemaninya menghadapi masalah yang terimplan pada jiwanya. Memohon dengan sangat agar Dia tidak meninggalkannya. Karena hanya Dia-lah yang ia harapkan. Hanya Dia-lah yang mampu mengangkat bebannya. Hanya Dia-lah yang mengetahui apa yang tak ia ketahui. Yang Maha Pembuka Rahmat, Yang Maha Melapangkan, Yang Maha Lembut, Yang Maha Dibutuhkan, Yang Maha Menerangi dan Yang Maha Pemberi Petunjuk. Dia-lah Allah SWT.

Malam itu, ia tersadar. Bahwa ia telah terlalu jauh melupakan-Nya. Ia lupa karena kenikmatan duniawi sesaat dan mengatasnamakan kesibukan aktivitasnya kini. Sekarang baru ia rasakan akibatnya. Ia merindukan-Nya. Ia merindukan sujud dalam kedamaian dan tangisan hati yang tulus di lantai suci rumah-Nya. Ia merindukan sensasi kehadiran-Nya dalam segala aspek aktivitasnya. Ia merindukan tangisan malam kala salat lail karena ia merasa bahwa ia sungguh mencintai-Nya. Ia merindukan rasa syukur yang selalu hatinya ucapkan.  Ia merindukan dirinya yang selalu haus akan doa yang terus-terusan ia panjatkan.

Malam itu, ia tersadar. Tuhannya mencintainya. Tuhannya menepuk bahunya. Tuhannya berusaha mengembalikannya. Tuhannya memedulikannya. Tuhannya menyanyanginya. Tuhannya memberinya petunjuk. Tuhannya juga merindukannya.









p.s. : Dari seorang gadis remaja yang mabuk asmara. Asmara kepada Allah SWT.

No comments:

Post a Comment