Ketika dengan sedikit memori yang menyentuh kalbu ia
meneteskan air mata lagi. Ia sadar pernah berjanji tak akan lagi seperti itu. Namun,
seseorang dengan sifat feeling
seperti yang MBTI katakan, akan selalu “sulit” mengendalikan perasaannya.
Di lain waktu kemudian ia mengingat betapa Winnie the Pooh’s quotes is extremely true.
Some people care too much, I think it’s
called love. Mengapa ia memiliki rasa yang tulus, meskipun seberapapun ia
tersakiti?
Ia bertekad tak menyimpan rasa itu lagi. Namun, ketika badai
menghempas memori ia akan kembali kelabu. Seperti awan senja yang sendu. Mencipratkan
warna oranye dan merah merona, seperti pipinya ketika deras air mata membasahi
pelupuk pipinya.
Ia menanti kapan kontinuitas ini berhenti. Ia yakin suatu
hari nanti akan tiba saatnya ia tersenyum mengingat memori ini, megingat betapa
bodohnya ia. Namun, ia tak tahu kapan saat itu terjadi.
Mungkin. Hingga saat itu belum kunjung tiba, ia masih
merasakan gejolak patahnya jembatan yang telah ia bangun dengan berton-ton
beton, beribu-ribu belulang pekerja, dan setiap detik yang tak terhitung
angkanya.
Semoga ia lekas sembuh. Semoga ia tak lemah lagi. Karena seberapapun
cinta, jika memang Allah tidak meridhai, maka Allah akan menjauhkan, bukan?
Dari sisi lainmu yang dengan diam menginginkanmu selalu
bersukacita.
No comments:
Post a Comment